STOP BERGUNJING DI DEPAN ANAK-ANAK

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Secara sederhana bergunjing dapat diartikan sebagai perilaku di mana dua atau beberapa orang membicarakan keburukan, kelemahan, atau hal-hal pribadi orang lain,  di belakang dan tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan. Biasanya, orang bergunjing karena ada beberapa beberapa faktor penyebab, baik yang bersifat psikologis maupun sosial, antara lain sebagai berikut: Pertama: Bergunjing sering dilakukan dalam suasana santai, dan bisa membuat orang merasa lebih dekat dengan teman bicaranya. Mereka merasa punya “rahasia bersama”. Jadi, gosip atau gunjingan kadang menjadi alat mempererat hubungan sosial, meskipun caranya tidak sehat. Kedua: Manusia secara alami ingin tahu tentang orang lain di sekitarnya. Dengan bergunjing, seseorang merasa mendapat informasi baru, meskipun informasi tersebut belum tentu benar. Hal ini membuat orang yang bergunjing merasa lebih tahu tentang seseorang daripada orang lain. Ketiga: Kadang orang bergunjing untuk membandingkan dirinya denga orang lain. Ketika ia membicarakan kekurangan orang lain, secara tidak sadar ia merasa lebih baik atau lebih benar. Keempat: Bergunjing juga bisa menjadi cara melampiaskan frustrasi, iri hati, atau rasa tidak puas terhadap seseorang, tanpa harus berkonfrontasi langsung. Kelima: Orang yang tidak menyadari atau tidak perduli dampak negatif dari gunjingan, misalnya bagaimana perasaan orang yang dibicarakan, akan lebih mudah mudah bergunjing daripada orang yang memilik kesadaran dan keperdulian akan dampak gunjing terhadap orang yang dipergunjingkan. Keenam: Di banyak lingkungan, bergunjing sudah menjadi kebiasaan sosial yang “diterima”, misalnya di kantor, lingkungan tetangga, atau komunitas kecil. Akibatnya, orang melakukannya tanpa merasa bersalah.

Walaupun bergunjing bisa “terasa menyenangkan”, akan tetapi itu hanya bersifat sesaat. Bagaimana pun juga, bergunjing adalah hal yang negatif dan berbahaya, apalagi jika dilakukan di depan anak-anak. Bergunjing di depan anak-anak memiliki dampak psikologis, moral dan hukum yang cukup serius.

Anak Belajar Meniru Perilaku Negatif

Anak-anak mengamati dan meniru apa yang dilakukan orang dewasa yang ada di sekitarnya, teruta kedua orang tuanya. Jika anak sering mendengar orang bergunjing, mereka akan menangkap pesan bahwa membicarakan keburukan orang lain itu adalah hal yang wajar. Akibatnya, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang suka membicarakan orang lain dan sulit menjaga rahasia.

Menumbuhkan Sikap Tidak Hormat dan Suka Menghakimi

Anak yang terbiasa mendengar gunjingan akan melihat orang lain hanya dari sisi buruknya saja. Anak akan belajar menilai seseorang berdasarkan omongan orang lain tentang orang tersebut, bukan dari komunikasi, interaksi dan pengenalan langsung. Ini akan menumbuhkan sikap mudah meremehkan, sulit menghargai, dan cepat menghakimi orang lain.

Menciptakan Rasa Takut dan Tidak Aman

Jika anak mendengar orang tuanya bergunjing tentang orang lain, ia bisa berpikir: “Kalau aku berbuat salah, aku juga akan dibicarakan seperti itu.” Hal ini akan membuat anak menjadi takut terbuka, tidak percaya diri, sulit mempercayai orang lain dan mengalami kecemasan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Melemahkan Nilai Kejujuran dan Empati

Bergunjing berarti berbicara tanpa izin dan tanpa empati terhadap orang yang dibicarakan. Anak yang sering menyaksikan orang bergunjing akan kehilangan kepekaan sosial, sulit memahami perasaan orang lain, dan tidak belajar untuk menyampaikan pendapat secara jujur dan sopan.

Menumbuhkan Budaya Negatif di Rumah dan Sekolah

Jika kebiasaan bergunjing  dibiarkan, anak akan menerapkan pola komunikasi yang sama di lingkungannya. Di sekolah, ia akan menjadi pelaku gosip atau bahkan perundungan (bullying) terhadap temannya.

Implikasi Hukum

Jika isi gunjingan mengandung fitnah atau pencemaran nama baik, maka ini merupakan tindak pidana yang mengandung konsekuensi pidana, baik berupa penjara dan/atau denda. Jika gunjingan itu dilakukan di depan anak-anak (misalnya di rumah, di kelas, atau di tempat umum), dan anak-anak mendengarnya, tetap tidak menghapus unsur pidana, karena yang dilihat adalah isi dan akibat perkataannya, bukan siapa pendengarnya. Jadi, walaupun niatnya hanya “bercerita”, bila isi gunjingan menyudutkan seseorang dan dapat diketahui orang lain (termasuk anak-anak), pelaku bisa dipidana. Jika isi gunjingan justru melibatkan atau merugikan anak, maka hal ini lebih serius. Membicarakan aib, kelemahan, atau keburukan seorang anak di depan umum (termasuk di depan anak-anak lain) bisa dikategorikan sebagai kekerasan psikis, karena menimbulkan rasa malu, takut, atau rendah diri pada anak tersebut. Jika dilakukan oleh guru, pendidik, atau tenaga kependidikan di depan siswa, bisa dianggap sebagai pelanggaran kode etik pendidik. Konsekuensinya bisa berupa teguran, pembinaan, atau sanksi administratif, tergantung berat ringannya pelanggaran.

Bergunjing di depan anak bukan hanya soal berkata-kata, tetapi juga soal menamamkan nilai-nilai kepada anak. Anak belajar bagaimana memperlakukan orang lain melalui apa yang ia dengar setiap hari. Oleh karena itu, stop bergunjing, apalagi di depan anak-anak. (SRP)

Share

Related posts

Leave a Comment